Minggu, 28 Februari 2010

Rahasia Hidup

Setelah bertahun-tahun dalam keterpurukkan, karena malu belum juga kunjung mendapat jodoh, tiba-tiba sang Dewi Fortuna menghampirinya. Seorang pemuda yang baru di kenalnya, lajang, pengusaha sukses, ganteng dan sok pasti berpendidikkan, datang beserta keluarganya untuk melamar. Tangis haru dan bahagia menyelimuti hati yang kekeringan akan kasih sayang pada diri Dilla. Pesta meriah nan mewah pun berlangsung penuh tawa bahagia dari ke dua belah pihak. Tapi sayang, dalam hidup itu tidak ada yang sempurna.

3 tahun sudah berlalu, namun perut Dilla belum juga terlihat membesar. Sanak Family selalu menanyakan kapan Dilla akan punya anak? Terlebih lagi sang Bunda yang sudah tua ingin segera menggendong cucu.
"Kalian itu aneh ya, dulu selalu nanya kapan kawin? Sudah kawin, terus nanya kapan punya anak? Stres saya dengernya! Kalian gak pernah tahu, seperti apa stres nya saya dulu sebelum menikah. Saya tidak mau bertemu orang. Saya hampir gila mendengar pertanyaan yang sama setiap waktu. Menikah & punya anak itu tidak semudah membuat adonan. Perlu waktu, dan juga kehendak Yang Di Atas." Jawab Dilla suatu hari dengan emosi.

"Kak, jangan mentang-mentang sudah kaya, ngomongnya kasar gitu!" protes Dian, sang adik.
"Kasar kamu bilang? Kalo ngomong tuch pake otak, dong! Lihat dulu permasalahannya, baru boleh protes!" Jawab Dilla sengit, untuk menghindar permasalahan yang lebih panjang, Dilla pergi meninggalkan keluarganya yang di selimuti sejuta tanda tanya. Masih jelas dalam ingatan, saat Dilla remaja, dia begitu aktif, ceria, ramah dan hampir gak pernah marah. Menginjak 25 tahun, semuanya berubah. Dia begitu sensitif, sampai dia sering menyendiri tidak mau bergaul seperti biasanya.

Sementara itu Dilla yang masih dongkol dengan semua pertanyaan dalam 3 tahun ini, menyetir Honda Jazz nya dengan kencang. Beberapa saat kemudian dia memasuki gerbang sebuah rumah besar, keluar dari mobil diapun masuk rumah dengan kesalnya. Di dalam rumah, dia menatap semua kemewahan di depannya. Kemudian dia melirik sebuah foto besar, foto pernikahannya dengan Beny. Dia menunduk, kemudian melangkah ke sebuah kursi, dan duduk di atasnya. Dilla menghela nafas panjang sembari merebahkan badannya di kursi.
"Dulu, aku miskin harta dan miskin cinta. Sekarang, harta sudah melimpah, tapi tidak juga merasakan bahagia. Seperti apa sech bahagia itu? Oh... tidak.... tidak, aku pernah merasa bahagia. Saat di lamar dan melangsungkan pernikahan. Yach, mungkin seperti itulah rasanya bahagia. Tapi kenapa bahagia itu hanya sesaat singgah dalam hidupku?" Bathin Dilla berkecamuk.

Tiba-tiba suara handphone terdengar dalam tas Louis Vuitton-nya. Sebuah nama yang tidak asing, Osi sahabatnya.
"Ya, kenapa, Si?"
"Dil, si Rara dah balik dari Jepang. Gue dah janjian ketemu ma dia, Loe mesti datang ya. Susah lho kita ngumpul. Di tempat biasa, ya!"
"Ok, gue dateng!"

Di sebuah cafe pinggir pantai, 3 sekawan bertemu setelah sekian tahun berpisah. Cipika cipiki, saling berpelukkan, dan melempar senyum mewarnai persahabatan mereka.
"Wah, ga nyangka ya loe jadi nyonya besar sekarang, Dil." Seru Osi melihat penampilan sahabatnya yang dulu paling susah di antara bertiga.
"Dunia berputar, say. Makanya, hari ini gue yang traktir ya! Jangan nolak, dulu loe semua yang keluar duit. Sekarang giliran gue...!"
"Deuuuuuuh si Nyonya inget juga masa-masa kita dulu!" Celutuk Rara yang di susul dengan tawa mereka. Hari itu Dilla hanya bisa tersenyum di bibir saja, tidak ada seorangpun yang tahu, kalau senyumnya itu hanya untuk menutupi masalah pribadinya.

"By the way, gimana nech si Nyonya besar... crita-crita dunk waktu bulan madu gimana... trus sekarang-sekarang gimana? Laki loe ok, kan?" Tanya Rara dengan gaya khas nya yang ceplas ceplos.
Dilla tersenyum, "semua ok, cuma belum di kasih momongan aja!"
"Bagus lah kalau gitu! Berarti loe emang nggak ada masalah dalam perkawinan loe! Kalau loe gimana, Si?"
"Gue juga gada masalah. Semuanya aman dan terkendali, laki gue lagi ada proyek di Belanda!" Jawab Osi ringan.
"Perfect.... kalian semua bahagia. Gue ikut senang dengernya. Jangan kayak gue....!"
"Emang loe napa, say" tanya Dilla penasaran.
"Kalian tahu, kenapa gue bisa pulang? Karena gue dah cerai sama gadun sinting itu!"
Dilla dan Osi terkejut mendengar kata cerai dari mulut Rara.
"Kok bisa, gimana ceritanya, say?" tanya Osi ingin tahu.
"Gue gak bisa terus diam, gue pulang mau curhat sama loe berdua. Kalau boleh gue jujur, sebenarnya, gue ini bini simpanannya. Gue mau di kawin ma dia, karena loe tahu sendiri... waktu itu perusahaan bokap gue bangkrut. Bokap gue meninggal karena jantung setelah tahu ada bawahannya yang korupsi sampe perusahaanya bangkrut. Nyokap gue sampe sekarang sakit stroke. Gue yang waktu itu terbiasa dengan kemewahan dan kemudahan, tiba-tiba harus hidup susah. Gue gak bisa terima keadaan. Makanya, waktu ketemu gadun kaya itu dan dia ngajak kawin, gue mau aja. Tapi ternyata, perkawinan gue adalah masalah baru dalam hidup gue. Jadi bini simpanan itu gak enak. Selalu mendapat sisa. Awalnya sech, gue asyik-asyik aja. Yang penting gue hidup senang. Tidak jadi gelandangan, dan nyokap bisa di urus ke rumah sakit. Lama-lama hubungan gue ketahuan ma bininya. So, gue di labrak dengan arogan. Gue ngerti sech perasaan dia. Makanya, gue diem aja waktu dia ngata-ngatain gue. Sakit sech, tapi gue nyadar kok, gue yang salah. Akhirnya, bininya bisa terima gue. Waktu dia minta gue tinggal di serumah, gue gada curiga apa-apa. Apalagi waktu itu dia tiba-tiba baik. Ternyata setelah gue tinggal serumah, gue menjadi upik abu. lama-lama gue gak tahan, akhirnya gue minta cerai. Dan gue pergi menenangkan pikiran gue ke Jepang. Sekarang gue dah baikan, mo bikin usaha kecil-kecilan buat ngidupin anak ma nyokap. Nyokap gue sekarang dah baikan, dah bisa ngomong. Meskipun masa depan anak gue juga dah di tanggung bapaknya, tetep aja gue mesti cari nafkah." Kata Rara dengan panjang lebar. Kalau di lihat dari ceritanya, dia memang menanggung beban yang sangat berat. Bathin Dilla terdiam. Dilla menelan ludahnya, menatap Rara dalam-dalam. Sahabatnya itu mengalami cobaan berat, tapi sikap dan pikirannya bisa stabil. Tidak seperti dirinya yang langsung down. Hebat! Gumamnya dalam hati.

"Sebenarnya.... gue juga mo curhat sama loe berdua!" kata Osi tiba-tiba yang mukanya seketika berubah sedih.
"Lho, mo curhat apaan, Si?" tanya Rara terkejut.
"Sebenarnya, laki gue bukan pergi ke Belanda. Tapi dia masuk penjara, karena ketahuan korupsi. Gue ga nyangka sech, dulu gue pikir gue yang salah. Karena selalu minta ini itu ma dia. Gue pikir karena dia terlalu sayang ma gue, laki gue nurutin semua kemauan gue. Ternyata, dia baik karena dia takut ketahuan, kalau dia punya simpanan. Dan uang hasil korupsi itu bukan untuk bermewah-mewah ma gue. Tapi berfoya-foya ma simpanannya. Gue tahu semua itu dalam persidangan. Sekarang, simpanannya itu kabur, gak tau kemana. Lama juga sech, gue gak bisa terima semua itu. Tapi lama-lama setelah berpikir, gue mau memaafkan laki gue. Mudah-mudahan hidup di penjara dapat membuatnya jera, Dan sekarang gue juga lagi berusaha untuk hidup apa adanya. Cuma saja, selain gue harus kerja, gue juga harus tahan banting menahan rasa malu. Karena punya laki di penjara karena korupsi. Demi anak-anak gue, gue harus bisa tahan." Ucap Osi menutup ceritanya.
"Gapapa, kok Si, kita gak bakalan lihat sisi keburukkan yang terkadi dalam hidup loe. Kita semua hidup di dunia ini pasti punya masa lalu. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kita akan selalu mendukung loe, jangan khawatir ya!" Ucap Rara membesarkan hati Osi. Tiba-tiba Rara menatap Dilla, "Dil, loe emang telat kawin. Loe dulu paling susah di antara kita bertiga. Udah gada duit, loe juga jadi down 100%. Bikin gue ma si Osi bingung ngadepin loe. Tapi semua itu berakhir, loe sekarang yang paling bahagia. Udah dapet laki ganteng, muda, kaya dan berpendidikkan. Sempurna......!" Ucap Rara seraya menepuk pundak Dilla. Di susul oleh anggukkan Osi, "Iya, Dil. Loe harus bersyukur, ngedapetin kebahagiaan kayak loe itu seribu satu!" timpal Osi sambil mereguk es kelapa muda.

"Kalian salah.....!" Suara Dilla terdengar parau. Semua memandang Dilla.
"Tadinya, gue gak mau orang lain tahu. Tapi karena loe berdua udah terbuka, terpaksa gue juga harus terbuka....!"
"Loe ada masalah apaan, Dil?" Tanya Osi penuh selidik.
Dilla menatap ke dua sahabatnya," Di dunia ini ga ada yang sempurna. Setiap orang, pasti selalu mempunyai masalah. Dari luar, mungkin perkawinan gue nampak sempurna. Selain muda, ganteng, kaya dan pinter, laki gue emang baik. Selain anak yang berbakti pada orang tua, dia juga baik dan bijaksana terhadap semua karyawannya. Termasuk baik dan sopan terhadap gue sebagai bininya. Tapi... ada yang kalian tidak tahu, kalau dia sakit. Terakhir.... gue tahu kalau dia udah kawin di luar negeri.....!" Dilla menahan isak tangisnya. Rara dan Osi saling berpandangan.
"Say, yang sabar ya. Tapi gue gak ngerti dech, kok bisa dia udah kawin. Yang di kawinan loe itu setahu gue emang keluarganya kok!" ucap Rara bingung.
"Lagian, say.... laki-laki sempurna kayak laki loe itu emang ga mungkin ga ada yang mau. Pasti ada cewek lain dalam kehidupan pekawinannya. Yang sabar, say. Gue juga ngerti perasaan loe!" kata Osi mencoba menghibur.
"Kalian ngga ngerti, dia memang udah kawin di luar negeri. Tapi bukan sama perempuan lain...!!!" teriak Dilla menangis sejadi-jadinya. Rara dan Osi saling berpandangan dan kemudian memeluk Dilla," Tenang, say.... gue ma Osi ada buat loe. Yang sabar ya!"
"Gapapa, Dil. Loe nangis aja sejadi-jadinya..... sampe puas!"
"Gue ngga tahu, harus bilang apa sama keluarga, kalo sebenarnya ue kawin sama laki-laki yang sakit. Dia menyukai sesama jenis. GUe mesti gimana? gue mau kehidupan normal kayak kalian berdua!" Ucap Dilla di tengah-tengah isak tangisnya dengan terbata-bata.
Dilla, Rara dan Osi menangis.... meratapi masalahnya masing-masing. Semua orang mempunyai masalah yang berbeda, namun kita sering merasa kitalah yang paling menderita di dunia ini.

Apa saran teman-teman untuk ke tiga sahabat itu?
"

5 Comments:

qq said...

wah..saran apa ya? rumit jg mslhnya...
mm..mungkin cari suami lagi aja..?

gak mutu said...

waw gak punya saran ...

cuman hadapi kenyataan walaupun itu pahit rasanya ....

semua tumbuh jadi satu ....

Willyo Alsyah P. Isman said...

Aku datang membawa lagu ciptaan ku...semoga kawan senang..mohon komentar nya ya..

Zamrud said...

Salam sahabat, baca juga budaya daerah anda pd menu Gallery di blogku n jgn lupa komen ya

Chan said...

hai kak...
udah lama tak bersua disini..

masih ingat chan kah?
hm.. menikmati fiksi kakak, dan mengambil pelajaran..

menarik kak..
kalau ada waktu berkunjung ke lapak chan yua..

salam,


chan

 

blogger templates | Make Money Online