Senin, 26 Oktober 2009

Tiada Lagi


Waktu itu tanggal 30 Juni, tidak biasanya Carel ngajak aku pergi ke tempat karaoke. Padahal aku tahu banget, kalau dia paling gak suka pergi ke tempat hiburan malam. Walaupun masih dalam keheranan, aku ikuti juga keinginannya, pergi ke salah satu tempat karaoke di kotaku. Ternyata, bukan hanya aku yang ada di sana. Teman-temannya yang lain sudah ngumpul di tempat itu. Terakhir aku tahu, bahwa malam itu adalah hari ulang tahun Carel.

"Kok gak ngasih tahu sech kalo kamu ulang tahun?" kataku sengit. Kesal karena aku gak bisa ngasih apa-apa sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Gak apa-apa kok sayang, aku gak perlukan apa-apa dari kamu. Aku cuma minta sesuatu dari kamu." Katanya sedikit romantis, tentu saja tidak seperti biasanya.
"Minta apa?" tanyaku agak tersipu.
"Aku minta kami bawain lagu "tiada lagi" dari Mayang Sari. Bisa kan?" Katanya memohon. Aku lihat dia sangat serius memintanya.
"Kalo aku gak bisa, gimana?" tanyaku menjebak.
"Berarti kamu gak cinta sama aku...!" jawabnya kecewa.
"Lho koq bisa gitu?"
"Iyalah, karena aku malam ini mau dengar suara kamu bawain lagu itu...! Bisa kan?" Pintanya lagi. Aku yakin, aku melihat keseriusan di matanya. Segitu inginnya kah dia mendengar aku bawakan lagu itu? Tanyaku dalam hati. Aku menghela nafas.
"Tapi suaraku jelek, kamu gak akan malu sama temen-temen kamu?" tanyaku malu-malu,
"Bagaimanapun suara kamu, aku gak peduli. Aku mau dengar kamu nyanyi lagu "tiada lagi" nya Mayang Sari"
"Kenapa harus lagu itu?" tanyaku penasaran.
"Karena aku suka banget lagu itu. Dan aku pengen orang yang aku cintai menyanyikannya.

Melihat dan mendengar permintaannya, aku tak dapat menolak. Maka, akupun membawakan lagu yang di mintanya. Entah kenapa, saat membawakan lagu itu, aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang sangat menyakitkan hati. Sesuatu yang tidak ingin aku tahu. Sesuatu yang... akh aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Sementara itu, Carel begitu terpana dengan alunan lagu yang aku bawakan. Begitu selesai aku bernyanyi, tepuk tangan menyertaiku, dan sudah di duga, tepukkan Carel lah yang sangat keras.

Malam itu, pesta ulang tahun Carel sangat meriah. Gelak tawa dan canda ria terdengar sangat akrab. Padahal, aku baru di kenalkan dengan mereka.

Keesokkan pagi, aku di kejutkan deringan telepon. Dari rumah sakit. Carel kecelakaan. Tidak pikir panjang lagi, aku langsung ganti baju tanpa mandi. Langsung meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ternyata CArel telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Badanku langsung lemas. Otot-otot dalam badanku seakan menolak untuk bergerak. Air mataku mengalir membasahi pipi. Tak percaya tapi nyata. Aku tak sanggup lagi untuk merasakan semuanya. Aku tak sanggup lagi....

Pesta semalam bukan hanya merayakan ulang tahunnya, tapi juga pesta perpisahannya. Perpisahan untuk selamanya. Dan lagu itu... memang tiada lagi dia hari ini dan seterusnya. Semoga engkau bahagia di sana.

Untuk Carel

5 Comments:

harto said...

Ceritanya serius bangeet, sampai aku terbawa-bawa bacanya...

Selamat yaa semoga suksess...salam kenal...

Willyo Alsyah P. Isman said...

duh... sedih banget terakhirnya ampe berpisah utk selamanya... sedih jadinya

Cara Membuat Blog said...

duh... cerita yang sangat memilukan.
aku merinding kalo dengar cerita yang kayak begituan.
karena aku juga sangat takut kehilangan.
Cara Membuat Blog

Ikutan Ngeblog said...

Cerita yang menyedihkan..
kehilangan orang yang dicintai sangat sakit, apalagi untuk selamanya.

Agung Aritanto said...

ohh jadi carel ngasih pertanda buat cowonya yaaaa

 

blogger templates | Make Money Online