Selasa, 24 November 2009

Dulu....

Dulu saya sempat berfikir, enak ya jadi anak orang kaya. Semua punya, semua dapat, semua bisa. Tanpa minta mereka pasti di kasih. Mau apa-apapun tak perlu repot minta. Sementara saya? Mau ini mau itu hanya ada dalam mimpi. Untuk sekolah saja, kedua orang tuaku harus banting tulang bekerja. Dan untuk uang sakunya, saya menjual buah manggis yang pohonnya tumbuh di depan rumah. Itupun kalau lagi berbuah. Kalau lagi gak berbuah, saya berjualan gulali (semacam permen dari gula) bikinan Bu Eros, tetangga sebelah. Lumayanlah, hasilnya bisa buat beli buku pelajaran dan sedikit untuk jajan.

Waktu itu, saya tidak berani minta uang untuk jajan pada orang tuaku. bahkan baju seragam yang sudah tidak putih lagi, sepatu yang sudah menganga, atau kaos kaki yang sudah kedodoranpun aku pakai tanpa berani meminta yang baru. Selagi aku tidak telanjang, aku pakai saja. Tidak tega harus minta ini itu, saya takut mereka stress karena tidak mampu membelikannya. Saya tidak mau membuat mereka merasa bersalah karena ketidak mampuannya.

Sering saya iri, jika melihat teman-temanku wara wiri dengan bajunya yang bagus, sepatunya yang keren, tas nya yang lucu atau kaos kakinya yang tidak kedodoran. Untuk jajan mereka tinggal minta, mau ini mau itu tinggal bilang.
Tapi saya harus berusaha, saya tidak ingin berjalan di tempat. Peluang itu pasti ada, dengan kesabaran dan usaha, pasti bisa berubah. Jatuh bangun dalam berusaha sudah biasa dalam hidup, yang penting tidak mudah menyerah dan putus asa. Alhamdulillah, semua berubah perlahan. Walaupun tidak banyak, namun setidaknya sedikit lebih maju.

Setelah sekian belas tahun berlalu, saya berjumpa seorang teman dari bangku SD. Dulu dia adalah murid super, super cantik, super kaya dan super pinter. Melihat betapa supernya dia, seharusnya dia menjadi orang yang sukses seperti orang tuanya. Setidaknya bisa setingkat di atas saya.
Namun yang saya jumpai sekarang, bukanlah dia yang dulu saya kenal. Wajahnya yang tampak lebih tua, badannya kurus, bajunya lusuh dengan menenteng nasi bungkus. Saya sempat tidak mengenalnya. Dulu saya sering melihatnya naik turun dari mobil mewah, sekarang dia berjalan kaki dengan sandal jepit yang sudah rusak sebagian. Kalau saja bukan dia yang menyapaku duluan, mungkin aku tidak akan tahu.
Dia mengakui penyesalannya, karena tidak memanfaatkan kepintaran dan kekayaannya dengan baik. Dulu dia menghambur-hamburkan uang seenaknya. Berfoya-foya tanpa berfikir untuk masa depan. Saat usaha orang tuanya bangkrut, ia tak dapat menerima kenyataan. Kini orang tuanya telah meninggal dunia.

Pertemuan itu membuatku sadar, apa yang aku peroleh sekarang, walaupun tidak besar, tapi sangat bermanfaat. Ternyata seseuatu yang di capai oleh keringat sendiri akan lebih berharga. Sesuatu yang di raih dengan perjalanan panjang, sesuatu yang di dapatkan dengan perjuangan dan sesuatu yang di capai dengan pengorbanan akan lebih nikmat. Saya yang dulu pernah meratapi kemiskinan, kini merasa bersyukur. Karena kemiskinan memberiku semangat untuk berubah. Karena ketidak mampuan membuatku berjuang. Dan pengorbanan mengajarkanku untuk menghargai hidup.

2 Comments:

harto said...

Syukuri apa yang ada...

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu” (QS Ibrahim (14) : 7).

Ipin said...

kisah yang menarik untuk di ambil pelajaranya

 

blogger templates | Make Money Online